Oleh: DM_Thanthar | Juli 14, 2008

SEJARAH BUKAN SASTRA

 

“Sejarah dan Sastra berbeda dalam struktur dan substansinya. Sejarah adalah sejarah sebagai ilmu, dan sastra adalah sastra sebagai imajinasi.”

(Kuntowijoyo, 2004).

 

Sejarah sebagai ilmu selalu terikat kepada prosedur penelitian yang bersifat ilmiah. Selain itu sejarah sebagai ilmu juga terikat kepada penalaran yang berdasarkan fakta. Pemujaan sejarah terhadap fakta memang sangat mendalam, sehingga fakta telah menjadi tumpuan mutlak bagi sejarah. Tanpa fakta maka penulisan sejarah tidak akan menjadi karya sejarah, bahkan sangat mungkin hasil akhir penulisan sejarah yang mengabaikan fakta akan menjadi karya sastra.

Kuntowijoyo melihat perbedaan sejarah dengan sastra dalam tiga hal, yaitu cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Cara kerja sastra merupakan pekerjaan imajinasi yang lahir dan dibangun oleh pengarangnya. Imajinasi yang dibangun itu sesuai dengan kehidupan yang dipahami oleh pengarang. Dengan demikian, pengarang atau penulis karya sastra lebih memiliki kebebasan dalam melahirkan karya. Bahkan seorang penulis karya sastra (Cerpenis, Novelis, dll) berhak membangun dunianya sendiri, sesuai dengan yang ada dalam imajinasinya. Hal itu dapat terjadi karena kebenaran dalam karya sastra berada di bawah kekuasaan pengarang. Kebenaran dalam karya sastra lahir dari sikap subyektif pengarang terhadap dunia yang dibangunnya. Akan tetapi, untuk hasil keseluruhan pengarang dituntut agar selalu disiplin dengan dunia yang telah dibangunnya. Saat menarik kesimpulan atau mengakhiri karyanya, penulis karya sastra tidak terikat dengan kesimpulan yang konkret. Dengan melemparkan sebuah pertanyaan kepada pembaca, pengarang sudah bisa mengakhiri karyanya.

Cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan yang ada dalam sebuah karya sastra tidak dapat dilakukan dalam penulisan sejarah. Seperti yang telah disinggung pada awal tulisan ini, sejarah sangat bertumpu kepada fakta. Tumpuan terhadap fakta mengharuskan sejarawan untuk berfikir dan bersikap obyektif. Sikap obyektif akan sangat menentukan hasil akhir dari sebuah penulisan sejarah. Kebenaran dalam sejarah ditentukan oleh sejauhmana usaha sejarawan dalam mencari, mengakaji, dan menganalisa fakta-fakta yang ada dengan seobyektif mungkin. Sejarah harus memberikan informasi secara lengkap, tuntas, dan jelas kepada pembaca – dalam hal ini masyarakat. Namun demikian, dalam kenyataannya setiap karya sejarah tidak dapat dipisahkan dari unsur subyektifitas penulisnya. Penulisan karya sejarah yang 100 % obyektif memang sangat sulit dilakukan, bahkan dapat dikatakan penulisan sejarah yang benar-benar obyektif tidak akan pernah ada. Hanya saja para sejarawan dituntut untuk meminimalkan unsur subyektif.

 

§         Kaitan Sejarah dengan Sastra

Sejarah dan sastra akan memiliki kaitan ketika sejarah itu dipandang dari konteks sejarah sebagai seni. Sejarah sebagai seni akan terlihat dari kebutuhan sejarah akan intuisi, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa. Semua faktor yang dibutuhkan sejarah tersebut merupakan unsur-unsur yang terdapat dalam sastra, hanya saja dalam penerapannya tentu tidak akan sama.

Pencarian intuisi bagi seorang sejarawan harus dilakukan dengan tetap mengingat data-data yang telah ada. Pencarian intuisi yang dilakukan sejarawan tersebut tentu saja berbeda dengan pencarian intuisi yang dilakukan oleh seorang pengarang. Pengarang cenderung bebas dalam mencari intuisi.

Demikian juga halnya dengan imajinasi dan emosi yang dibutuhkan sejarawan. Imajinasi yang dilakukan sejarawan lebih mengarah kepada imajinasi yang kongkret. Artinya, imajinasi bagi seorang sejarawan bertujuan untuk menggambarkan kondisi dan keadaan ketika terjadinya suatu peristiwa, bukan imajinasi yang akan membangun dunia sendiri. Penuangan imajinasi ke dalam bentuk tulisan harus melibatkan emosi dan gaya bahasa yang menarik dan lugas, bukan gaya bahasa yang menggunakan majas.

Penggunaan seni sastra dalam penulisan sejarah akan memberikan karakterisasi dan struktur yang jelas terhadap karya sejarah. Namun demikian, kedekatan sejarah kepada seni akan dapat menghilangkan ketepatan dan obyektifitas sejarah. Tidak hanya itu, kedekatan sejarah dengan seni juga akan mempersempit ruang gerak sejarah. Jadi jelas sejarah bukanlah sastra, walaupun sastra juga memberikan sumbangan penting dalam konteks sejarah sebagai seni. (DM. Thanthar)

 

*****

Oleh: DM_Thanthar | Mei 7, 2008

CORETAN KECIL UNTUK RENUNGAN

Sewaktu-waktu kehidupan ini tidak sebahagia senyum bayi. Juga tidak seindah biasan pelangi yang hadir di langit setelah gerimis usai. Hidup benar-benar sebuah perjuangan. Perjuangan yang melahirkan pertempuran maha dahsyat. Bukan layaknya pertempuran kanak-kanak, yang ketika sang hero mati akan bisa bangkit lagi dan kembali menyerang sehingga musuh-musuhnya tunduk dan takluk.

Masa kanak-kanak selalu berlalu. Ia pergi bersama senja dan tidak akan pernah kembali lagi bersama fajar. Masa kanak-kanak merupakan salah satu dari sekian banyak pucuk kebahagiaan yang ada pada pohon kehidupan. Kebahagiaan masa kanak-kanak tidak akan pernah lelah mengendap dalam memori insan, bahkan sampai saat batas langkah telah nyata sekali pun.

Perih terkadang menyisip kala mengenangkan masa kanak-kanak, karena di sela bahagianya juga terselip luka yang ditorehkan oleh sembilu waktu. Akan tetapi jangan tumpahkan air mata untuk pembasuh perih itu. Biarkan ia mencari maknanya sendiri dalam titian waktu. Sementara itu, tetaplah membekaskan jejak untuk perjuangan abadi. Perjuangan yang hanya akan berhenti ketika insan telah memahami makna ke-aku-an.

Senja yang membawa masa kanak-kanak biarlah pergi, lenyap, musnah, dan sirna sekalian. Semoga kesombongan dan kemunafikan jiwa ikut serta bersamanya. Kendati demikian, keegoan jiwa tidak akan sepenuhnya hilang dalam pekat malam. Ia akan selalu menyeruak di balik kebeningan embun remaja dan menawarkan sejuta warna untuk embun itu. Tidak ada yang bisa menebak warna apa yang akan singgah. Mungkin biru, hijau, merah, kuning, atau bahkan mungkin juga hitam. Pastinya, tidak akan pernah hadir warna yang benar-benar putih karena kita manusia, bukan malaikat.

Dinamika warna kehidupan remaja memang bergulir bersama denyut dan detak waktu yang diiringi rentak dan geliat kebudayaan. Waktu melangkah dalam keteraturannya yang sempurna, sesuai dengan titah yang menjadi tanggungjawabnya. Sementara, kebudayaan sering oleng dalam tariannya, bahkan juga mengalami benturuan-benturan dengan sejuta isme, ideologi, dan kepentingan. Tentunya, hanya yang terkuatlah yang akan jadi Sang Dominan. Namun demikian, Sang Dominan tidak akan mutlak menjadi penguasa jiwa dan menjadi warna bagi nafas kehidupan remaja karena jiwa remaja sangatlah dinamis.

Petualangan jiwa remaja bersama waktu dan budaya akan mencapai batas dan menyisakan sesuatu yang bernama kepribadian. Kepribadian untuk menuju kedewasaan. Kedewasaan yang entah telah datang kepada kita entah belum. Kita tidak akan bisa memvonisnya karena senandung sesat iblis selalu mengombang-ambingkan manusia ketika hendak menelanjangi jiwanya untuk mencari kedewasaan, yang pada hakikatnya merupakan upaya untuk mencari jati diri dan makna hadirnya sebagai hamba dan khalifah di bumi.

Sebenarnya kedewasaan itu tidak perlu dicari, karena ia selalu datang tiap pagi untuk menghirup kearifan dan kebijaksanaan nan bersuci dengan kejujuran embun. Kedewasaan adalah fajar yang kehangatannya senantiasa membelai hidup dan kehidupan. Kedewasaan bukanlah matahari yang akan membutakan mata hati dan membisukan suara nurani dengan sengatan panasnya. (DMT)

Oleh: DM_Thanthar | April 13, 2008

Sebuah Catatan Kecil

Jika saat ini benar-benar merupakan era reformasi maka tidak dapat dipungkiri bahwa rentak dan gerak reformasi telah memunculkan masyarakat yang sangat kritis. Bahkan saking kritisnya, saat ini masyarakat seolah-olah telah memegang tali kendali untuk setiap perubahan. Dari pusat sampai ke daerah, masyarakat  telah berani berpendapat dan mempertahankan pendapatnya. Artinya, masyarakat Indonesia telah mengerti hak mereka untuk mengkritisi setiap perkembangan. Namun demikian, kondisi yang sesungguhnya terjadi adalah masyarakat yang kritis dalam menjalankan kebebasan namun mereka tidak sadar bahwa mereke telah kebablasan. Sekedar untuk ilustrasi, lihat saja apa yang dilakukan masyarakat ketika merasa tidak puas terhadap suatu kebijakan. Paling tidak ada dua pilihan tindakan masyarakat dalam merespon ketidakpuasan mereka pertama demontrasi secara damai, dan pilihan kedua adalah tindakan anarkis. Di antara dua pilihan tersebut ternyata tindakan anarkis merupakan pilahan yang cukup menarik bagi masyarakat. Reformasi telah membuka gerbang demokrasi tetapi juga membawa bibit anarki. (DMT)

Kategori