PUISI

ANGKUH
Karya: DM. Thanthar

Bias mata mu siratkan jiwa mu
Tahtah mu musnahkan rasa mu
Harta mu leburkan mulia mu
Dunia butakan hati mu

Dalam angkuh mu
Sorga indah jijik melihat mu
Neraka merah rindukan hadir mu

Maninjau, 21 Oktober 2001

USAI
Karya: DM. Thanthar

Biru kini kelabu
Musnahlah tahta sorga
Detik kini berlalu
Pedang pun angkat bicara

Matahari pancarkan kemilau
Tapi bukan untuk engkau
Lunglai menggapai
Tak akan sampai
Satu jiwa, usai

Maninjau, 5 Desember 2002

NOL-NOL TIGA PULUH
Karya: DM. Thanthar
Bolak-balik langkah waktu
Ah… jenuh
Menghempas nafas buruk mu
Kau melenguh… angkuh…

Nol-nol tiga puluh
Batin-batin suci
Luluh… rapuh…
Merangkak; berdiri; berlari
Kesucian semakin keruh

Yang ada disini
Nol-nol tiga puluh
Nurani mu mati tak bersuluh
Kau biadab…!!!
Menjegal; membunuh
Peradaban runtuh

Yang tersisa disini
Nol-nol tiga puluh
Kedamaian semakin jauh

Ps. Baru, 15 April 2003

DUA PERJALANAN
Karya : DM. Thanthar

Galeri hidupku tak tersibak
Hingga bahagia menjadi prahara

Lukisanmu tak ada lagi disini
Hilang ditelan rakusnya zaman
Mulutnya masih menganga menantiku
Tapi aku bukanlah lukisanmu

Dua perjalanan tlah kulakukan
Mencari jejak akhir yang kau tinggalkan
Hanya untuk galeri hidupku
Gersang tanpa lukisanmu

Galeri hidupku tak tersibak
Hingga bahagia menjadi prahara

Padang, 07 Mei 2004

BUMI MU DUNIA KU
Karya : DM. Thanthar

Bumi telah menuai kutukan
Penghuninya bersifat laknat
Tapi ini bukan Bumi
Ini Dunia

Manusia hanya sesamar kabut dari Binatang
Ketika Kabut itu hilang
Manusia menjadi Binatang

Aku tak mau menjadi Binatang
Karena aku bukan Manusia
Aku adalah hamba

Manusia tinggal di Bumi
Melangkah angkuh tanpa akhir
Hamba hidup di Dunia
Menunduk pada ke-abadianNya

Kau pikir Bumi abadi
Tapi yakinlah Dunia fana

Maninjau, 26 Juni 2004

KAU
Karya : DM. Thanthar

Kau bukanlah kau
Ketika kau disini
Kau akan menjadi kau
Ketika kau sampai disana

Kau belailah tirai jiwamu
Jari tanganmu akan rasakan
Rapuhnya jiwamu yang kau anggap karang

Kau bukalah jendela jiwamu
Cahaya matamu akan kau temui
Dibalik semua yang kau acuhkan

Berdiam dirilah sejenak
Akan datang belaian angin
Sejuknya mungkin akan sejukkan jiwamu

Kau bukanlah kau
Ketika kau disini
Kau akan menjadi kau
Ketika kau sampai disana

Padang, 15 Mei 2004

BULAN RETAK
Karya : DM. Thanthar

Rembulan retak
Rembulan suram
Kau kirimkan untukku

Malam berlalu dijemput pagi
Bintang pulang, Matahari datang

Gerbang terkuak
Kawanku tak disana

Rembulan retak
Rembulan suram
Kini ku genggam

Maninjau, 04 Agustus 2004

KOREK-SI
Karya : DM. Thanthar

Kau yang lalai
Atau aku yang lengah
Sehingga redupnya sinar obor
Yang tertancap di timur jalan ini

Matamu yang buta
Atau hatiku yang mati
Sehingga terkoyaknya kehormatan saudara kita
Dan kita hanya berdiri

Kau ingat..!
Korekmulah yang kusulut
Hingga kita terbakar

Maninjau, 06 Agustus 2004

KU INGAT KU SADAR
Karya : DM. Thanthar

Yang ku ingat
Aku tak lagi di penjuru mata angin

Yang ku ingat
Kau tampar kealpaan jiwaku

Yang ku sadar
Sadisnya waktu memancung hariku

Yang ku sadar
Berartinya tetesan embun terakhir
Di pagi ini

Padang, 15 Agustus 2004

KEMEGAHAN
Karya : DM. Thanthar

Aku…
Kau…
Kalian…
Tak akan mampu menjadi bijak
Apabila selalu memuja yang bersifat relatif

Aku…
Kau…
Kalian…
Telah dianugerahi kemegahan
Dari mula udara merasuki aliran nafas

Aku…
Kau…
Kalian…
Harus sadar, bahwa dunia manusia adalah batin.

Padang, 22 Agustus 2004

BIJAK-SANA-PEKAT
Karya : DM. Thanthar

Kau mematahkan tongkat Senja
Dan membiarkannya tergeletak
Dipuing-puing reruntuhan Waktu

Kau menggenggam cambuk Fajar
Dan berharap menatap kesucian
Diayunan tirai kehidupan

Kau memakai jubah Malam
Dan mencari kebijaksanaan
Dipekatnya

Padang, 22 Agustus 2004

BU-DAYA
Karya : DM. Thanthar

Mati budaya ku
Budaya ku mati
Aku mati budaya
Keegoan etnis dikarang hati ku

Hidup budaya ku
Budaya ku hiduplah
Akulah yang hidup
Meniti buih Sanur
Untuk mu Bu Daya

Sanur, 25 Februari 2005

PEMAKNAAN
Karya : DM. Thanthar

Kutitipkan gelisah dan penat jiwaku
Dalam senyum dan tarian buih
Tak kumatikan rasaku disini

Kususupkan cintaku
Di sebutir percikan ombak
Tak basahi pucuk-pucuk egoku

Kulemparkan sauh nurani
Di sela karang yang berguncang
Termaknai budayaku disini.

Sanur-Maninjau, 5 Maret 2005

BAYANGAN ALAM
Karya: DM. Thanthar

Basuhlah jiwa kusam mu
Dengan air wudhu’
Samar bayangan alam

Cercalah qalbu kelam mu
Dengan pelita Tuhan
Hilang bayangan alam

Alam. Membayang. Samar
Alam. Membayang. Hilang

Samar dan hilang
Dan membayanglah alam
Namun tak sehitam bayangan ruh ku

Padang, 21 April 2005

UNTUK MU AKU MENJADI ABU
Karya: DM. Thanthar

Kau adalah Malaikat ku
Yang menyayat putus nadi ku
Dan membiarkan ku, tergeletak
Menjadi Bangkai

Kau adalah Bidadari ku
Yang memakan jantung ku
Dan membiarkan ku, terbaring
Menjadi Tanah

Kau adalah Kekasih ku
Yang merobek jiwa kemanusiaan ku
Dan membiarkan ku, berdiri
Menjadi Binatang

Aku adalah pelita mu
Yang memancarkan cahaya
Dan meleburkan tubuh ku
Menjadi Abu

Ps. Baru, 21 April 2005

BISU, PAHIT, HILANG
Karya: DM. Thanthar

Titian yang ku bangun
Patah ketika kau sampai
Di seberang …
Aku tertegun, membisu

Setapak yang ku rintis
Kau lalui dengan telapak kecil mu
Di seberang …
Aku tertegun, pahit

Suara yang ku dengar
Adalah suara mu
Di seberang …
Bayangan mu, hilang

Ps. Baru, 21 April 2005

KABUT DI TENGAH KAMPUS
Karya: DM. Thanthar

Sang Fajar
Mengintip kehaluan Bumi
Dikala Bintang mulai menangis
Sementara Rembulan telah berhenti meratap
Disana…
Merambat kabut tak bernama
Menyelimuti rumput dan pepohonan
Sehingga mereka susah bernafas
Aku tahu
Kabut datang karena tingkah rumput dan pepohonan
Tidak lagi memuja kesucian alam
Mereka telah berubah menjadi binatang
Tetapi itu wajar,
Bila rumput itu adalah rumput
Dan pohon itu memang pohon
Tetapi itu tidak wajar,
Tatkala rumput itu adalah rambut
Dan pohon itu adalah tubuh
Kini Fajar yang meratap
Saat waktunya usai
Bulan dan Bintang hanya bisa diam
Melihat kabut di tengah Kampus
Limau Manis, 1 Juni 2005

KE-AKU-AN
Karya: DM. Thanthar

Ketika Manusia lahir ke dunia, ia memulai pencariaannya tentang ke-aku-annya dengan apa adanya.
Namun, ketika ia sadar bahwa ia adalah Manusia, maka ia menggunakan fikirannya untuk menemukan siapakah ia sebenarnya.
Di tengah perjalanan hidupnya, terkadang ia merasa telah menemukan ke-aku-annya.
“Inilah Aku…!!!”. Katanya
Akan tetapi, itu hanyalah hasil penggalian yang dangkal dari fikirannya terhadap ke-aku-an itu. Karena, makna ke-aku-an yang hakiki baru akan dipahami dan ditemui oleh Manusia saat Sakaratul Maut mendekap jiwa raganya.

Padang, 23 November 2005

…AK, …TA,
Karya: DM. Thanthar

Cita, Cinta, dan Cerita
Tercipta dari waktu nan berseteru
Dengan aku, sebelum kaku

Rentak, Gerak, dan Teriak
Hanya menjadi ilusi
Untuk nanti, menjadi mimpi

Kenangan ada setelah waktu tiada
Dan aku akan berseteru dengan waktu
Untuk – Mu

Lembah Harau, 18 Januari 2006

KEMERDEKAAN NAN MERDEKA
Karya: DM. Thanthar

Aku terpasung di tanah tak terjajah.
Tangan ku bebas menari,
Kaki ku bebas berlari.
Tetapi, otak dan pola pikir ku diracuni.

Teriak merdeka mendekat masa se-abad
Bumi hijau kita telah berubah coklat
Dan kita mati kelaparan, merana kemiskinan di atas tanah subur penuh lumpur.

Sementara itu,
Kita hanya sibuk bernostalgia tentang kehebatan para tetua yang berjiwa kokoh, berfikiran cemerlang, dan berbudi luhur.
Namun, mengapa hanya ada nostalgia ?
Alangkah bijaknya jika ada realita yang lahir dari nostalgia itu.

Kini,
Tepuklah dada ku, kita, dan kalian
Teriakanlah ..!!!
“Mana kemerdekaan nan merdeka ..!!”
Sadarilah ..!!!
Budaya dan peradaban kita tercabik-cabik
Karena generasi muda tidak bangga dengannya.

Ps. Baru, 24 Januari 2006

INI REFORMASI BUNG ..!!!
Karya: DM. Thanthar

Ini Reformasi Bung ..!!!
Rakyat bebas bicara
Walau haknya masih diperkosa penguasa

Ini Reformasi Bung ..!!!
Rakyat makin melarat
Karena pejabat didikte para penjilat

Ini Reformasi Bung ..!!!
Reformasi nan terhenti
Mungkin, menunggu tarian Revolusi

Ps. Baru, 13 Maret 2006

TERSENYUMLAH WIE ..!?
Karya: DM. Thanthar

Wie, usaplah air mata mu
Tangismu takkan mengetarkan hati mereka
Karena mereka tidak lagi punya hati
Apalagi nurani

Jangan lagi terisak, Wie
Bukan salah mu jika mereka durhaka
Kau telah membalut jiwanya dengan emas
Tetapi, mereka menjualnya demi raga

Wie, tengoklah ..!?
Anak mu yang lain masih membutuhkan mu
Senyum mu sebagai penawar lukanya
Luka yang terkoyak oleh tangan saudara sendiri

Tersenyumlah, Wie
Aku akan membantu mu
Mengabarkan masa nan berbatas
Mengingatkan jejak nan berbekas
Agar mereka insaf

Tersenyumlah, Wie
Jangan biarkan cinta ku terburai

Ps. Baru, 13 Maret 2006

WIE, AKU HANYA BISA MENGADU
Karya: DM. Thanthar

Wie, ku tahu kau sedang resah
Karena semangat revolusi telah berubah menjadi semangat korupsi
Semenjak putra-putri terbaik mu pergi, sehingga yang tersisa hanyalah putra-putri terlicik mu

Wie, ku tahu kau juga risih
Melihat kain budaya nan tercabik, sehingga aurat anak-cucu mu tersingkap di sepanjang jalan
Naifnya, mereka malah tertawa bangga

Wie, kau mungkin belum tahu
Tunas harapan telah ditebas oleh sabit pemerintah nan sangat tajam
Sabit yang diasah dengan gerinda impor.

Wie, kemana pun aku palingkan wajah
Selalu ku lihat kebobrokan itu
Aku belum mampu berbuat, Wie
Aku baru bisa mengadu

Ps. Baru, 26 Maret 2006

HAMKA – HATTA
Karya: DM. Thanthar

Hamka, Hatta
Telah berbuat untuk zamannya
Berjuang, lalu merdeka
Bagaimana dengan kita ..?

Hamka, Hatta
Telah menuliskan sejarah dengan tintanya
Bersahaja, membangun budaya
Bagaimana dengan kita ..?

Hamka, Hatta
Telah mengakhiri kisahnya
Mereka tidak meminta dipuja
Tidak untuk dinostalgia juga

Hamka, Hatta
Tak adakah yang bisa seperti mereka ..?

Ps. Baru, 06 April 2006

INGAT, INGATLAH…!
Karya: DM. Thanthar

Bila tak sempat kau kenal wajahku
Kenalilah wajahmu, sebagai dirimu
Lalu, lanjutkanlah perjuangan Adam & Hawa
Yang masih terbengkalai

Bila ingin kau kenang diriku
Datanglah ke Padang ribu-ribu
Lalu, singgahlah di dangau-dangau puisiku
Yang ku bangun hanya untukmu

Bila hendak kau jumpai aku
Carilah cahaya Rabb mu
Lalu, tidurlah di pangkuanNya
Kita akan bersua

Maninjau, 19 Juli 2006

HANYA ITU, KAWAN…!
Karya: DM. Thanthar

Aku lelah mengusir gelisah, kawan
Sehingga kukirimkan saja kepada malam
Dan berharap ia takkan kembali bersama kelam

Aku harus memelihara cemas, kawan
Hari-hari ku telah dihiasi rintik
Dan kita semakin sulit menendangkan lagu kita

Aku tak bisa lagi bernyanyi, meninabobokkan lagu kita
Tak bisa lagi berlari, merentang puisi hidup
Tak bisa lagi berbisik, merayu kekasihku

Aku tak pernah menyerah, kawan
Tapi, jika akhirnya aku tetap tak sanggup memamong sajak kita
Jangan sesali masa hidupku
Tanamkanlah do’a dan lanjutkan perjuangan kita
Hanya itu…

Maninjau, 19 Juli 2006

BUKAN AKU
Karya: DM. Thanthar

Aku bukanlah api.
Nan selalu menjadi jeruji antara asap dengan bara_

Aku bukanlah awan.
Nan menjadi perisai antara langit dengan bumi_

Aku bukanlah raja.
Nan gila sanjung dan puja_

Aku bukan pujangga.
Walau bicaraku dengan lidah tinta_

Aku bukanlah aku. Sampai ajal menjemputku_

Padang, 25 Agustus 2006

Tanggapan

  1. oi lai takan juo jo kwn lamo????????????????????
    dima kawan kini
    kok dak sadonyo bmasuak’an puisinyo?
    agiahlah epni puisi ciek^_^


Beri tanggapan

Your response: