Maafkan Aku Cut…!?
Oleh : DM. Thanthar
Awan hitam menghampar menutupi birunya langit sore. Awan itu seolah-olah ditata dengan sempurna oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan. Bagaikan selendang langit, ujung-ujung awan itu menjulur dari puncak bukit sampai ke batas kaki langit di laut.
Jalanan terlihat sepi. Aku yakin suasana mendunglah yang membuat orang-orang malas untuk berada diluar rumah. Mereka takut terperangkap oleh hujan lebat dan menggigil kedinginan.
“Hei…! Mengapa kau malah keluyuran diluar rumah Cut? Tidakkah kau takut kedinginan?“ Ujarku ketika melihat Cut melangkah perlahan di jalanan yang sepi itu.
Cut seolah tidak mendengar suaraku. Ia terus saja melangkah, lalu berbelok ke arah pantai. Aku sudah dapat menebak tujuan gadis kecil itu, pasti ia menuju Bale-bale yang ada di pinggir pantai. Memang sudah hampir seminggu ini Cut selalu datang dan duduk di Bale-bale itu. Tiap sore selalu begitu. Aku kira ia tidak akan datang sore ini, ternyata dugaanku salah, Cut masih datang dan duduk di Bale-bale itu.
Cut seorang gadis mungil, umurnya mungkin masih delapan tahun. Namun satu hal yang menarik bagiku adalah pemikirannya yang sudah sangat dewasa. Sangat luar biasa bagiku seorang gadis kecil memikirkan kondisi negerinya yang tengah dilanda perang saudara.
”Kapankah datangnya kedamaian di negeriku ini? Kapan aku dapat bermain dan belajar tenang? Mengapa harus negeriku yang mengalami masalah ini? Mengapa…” Ujar Cut Pelan seolah berbicara pada dirinya sendiri. Ya… Cut selalu berkata begitu, tetapi walaupun ia berbicara dengan suara pelan aku selalu dapat mendengarkan suaranya dengan jelas.
”Aku dapat merasakan apa yang kau rasakan Cut. Andai aku bisa membantumu pasti akan kulakukan Cut.” Bisik hatiku yang simpati kepada Cut.
Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan keberadaan Cut di Bele-bale itu, karena bukan hanya Cut yang ada disana, tetapi juga para nelayan. Kesibukan para nelayanlah yang selama ini sering menjadi perhatianku. Suatu ketika aku melihat ada gadis mungil yang duduk di Bale-bale sambil menatap para nelayan. Semenjak itulah aku kenal dengan Cut, walaupun ia mungkin tidak pernah tahu akan aku. Aku tidak pernah berkenalan dengan Cut. Aku tahu namanya setelah ku dengar ia memanggil dirinya dengan Cut.
Cut, hanya itu yang aku tahu. Entah masih ada tambahan sesudah kata Cut, aku memang tidak pernah tahu. Satu hal yang menarik bagiku adalah langkanya nama Cut. Saat mendengar ia memanggil dirinya dengan Cut, aku seolah dipaksa kembali kemasa seribu tahun silam. Aku dapat melihat lagi kisah heroik yang dipimpin oleh seorang perempuan yang bernama Cut Nyak Dien. Setelah ia gugur, tidak ada lagi perempuan yang bernama Cut di tanah Rencong ini, kecuali gadis mungil itu.
Aku terus memperhatikan Cut, dugaanku tidak salah, Cut memang berjalan menuju Bale-bale itu. Sebelum naik ia menengadah ke langit. Aku yakin hanya mendung yang terlihat olehnya, tapi …mengapa ia tersenyum. Ini pertama kalinya kulihat ia tersenyum. Bukan hanya itu, matanya pun kulihat berbinar seakan ia bahagia.
“Apa yang kau lihat di hamparan mendung itu Cut? Mungkinkah mendung yang sanggup memberi kebahagian kepadamu?“ Ditengah keheranan aku bertanya.
Cut hanya diam, ia memandangku dengan matanya yang indah. Senyumnya masih menghiasi bibirnya, pancaran bahagia terlihat menyelimuti tubuhnya.
”Mendung mencekal lantangnya cahaya Matahari menuju Bumi dan mengubahnya menjadi cahaya yang redup. Redup mendung seakan telah meredupkan nafsu saling menguasai yang berkobar di dada para penguasa. Cut senang… Cut bahagia, mereka tidak lagi saling membunuh walaupun alasannya hanya karena mendung yang pekat.” Ucap Cut seakan menjawab pertanyaanku.
Cut memperbaiki letak kerudungnya, kemudian ia berdiri dan melangkah turun dari Bale-bale. Ketika akan mendekati ku muncul kilat di langit yang disusul oleh suara petir yang keras. Cut terkejut, wajahnya yang tadi ceria terlihat pucat. Gerimis mulai turun.
”Cut harus pulang.” Katanya. Kemudian ia berlari disela-sela gerimis dan hilang dari pandanganku.
***
Pertemuan sore itu adalah pertemuan terakhirku dengan Cut. Semenjak itu aku tidak pernah lagi melihatnya. Sehari, dua hari, seminggu, bahkan sudah sampai sebulan Cut tidak pernah lagi datang. Aku resah. Aku membayangkan Cut kecil terbaring lemah karena sakit atau mungkin Cut sudah…
”Ah…tidak mungkin.” Aku menepis pikiran buruk yang merasuk kedalam otakku.
”Tetapi kalau tidak ada apa-apa dengan Cut, kemana dia?” Aku bingung juga memikirkan gadis mungil itu.
Wajar saja apabila pikiran buruk selalu merasuk kedalam otakku. Di negeri yang tengah dilanda perang saudara, tentu saja apapun bisa terjadi. Cut bisa saja terkena peluru yang nyasar, seperti yang dialami ayahnya.
”Cut tidak tahu apa salah ayah. Ayah hanya seorang nelayan. Ayah tidak mengetahui apa yang mereka perebutkan. Ayah juga tidak tahu apa yang menyebabkan mereka berperang. Mengapa ayah yang menjadi korban mereka? Mengapa ayah yang mereka tembak?!” Cut mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.
”Cut heran, mereka saling membunuh padahal mereka bersaudara. Mungkin mereka tidak sadar bahwa mereka sama-sama terlahir dari rahim pertiwi. Mereka tidak pernah peduli dengan saudaranya yang lain. Gara-gara mereka banyak keluarga yang tercerai-berai. Cut harus kehilangan ayah. Paman Cut terpaksa mencari daerah yang aman dan akhirnya memilih menetap di Papua. Betapa jauhnya kami terpisah, Cut dan ibu tinggal disini sementara paman jauh di ujung timur.” Sambung Cut.
Ucapan Cut itulah yang membuatku cemas. Aku khawatir kalau Cut terkena tembakan. Cut tidak pernah betah berdiam diri di rumah. Ia selalu saja keluar rumah untuk bermain-main dan datang ke Bale-bale. Tidak salah kalau jiwanya cepat dewasa. Puluhan peristiwa telah disaksikannya dengan matanya sendiri.
Aku bukannya tidak pernah mencari Cut. Pernah suatu kali aku dengar berita tentang Cut dari para nelayan. Mereka mengatakan bahwa Cut ikut bersama pamannya ke tanah Papua. Aku sangat terkejut mendengar berita itu. Aku tidak begitu percaya, karena aku yakin kalau Cut pergi ke Papua pasti ia akan datang ke Bale-bale terlebih dahulu. Untuk memastikan keberadaan Cut, aku menyuruh adikku menyusul ke tanah Papua.
”Cut tidak ada disana. Jangankan tubuhnya bayangannya pun tidak kelihatan olehku.” Begitu penjelasan adikku setelah ia kembali dari Papua.
”Aku tidak yakin kau mencarinya ke seluruh pelosok Papua. Kau telah membuat perjalananmu sia-sia, pulang tanpa hasil.” Kataku.
”Aku tidak tahan berlama-lama disana. Sesampainya di Papua aku langsung menuju Nabire, karena kudengar paman Cut tinggal disana. Tetapi apa yang aku saksikan, gedung-gedung roboh dan tanah-tanah retak oleh getaran dahsyat. Malahan aku dengar mereka menyebut namaku, seolah-olah akulah yang menjadi penyebabnya. Aku tidak tahan dengan semua itu, makanya aku pulang.” Adikku menjelaskan.
”Tapi walau bagaimana pun aku harus menemukan Cut.” Kataku.
Aku memandang jauh. Aku berharap dapat melihat Cut, kalau tidak tubuhnya, bayangannya pun cukuplah. Aku tidak tahu mengapa kerinduanku begitu memuncak pada gadis mungil itu.
“Cut dimana kau? Sudah hilangkah harapan-harapanmu untuk tegaknya bangsamu dalam satu? Bukankah kau mendambakan kedamaian negerimu? Bukankah kau menginginkan kembalinya solidaritas anak negeri seperti masa perjuangan dulu? Cut datanglah walaupun sebentar.” Aku sangat mengharapkan kedatangan Cut.
“Lihat…!! Itu Cut…!!!” Teriak adikku lantang.
Ia langsung berlari ke arah Cut yang sedang berjalan santai menuju Bale-bale itu. Tanah bergoncang keras, orang-orang berlari ke luar rumah. Cut terkejut, sebentar ia diam dan merasakan getaran yang makin keras. Ketika getaran agak reda Cut langsung berbalik dan berlari menjauhi Bale-bale itu.
”Cut tunggu…!!!” Teriakku.
Aku sudah tidak kuasa lagi menahan diriku. Serta merta aku menghambur ke darat mengejar Cut. Cut masih sempat menoleh ke belakang, melihatku. Aku heran, Cut memandangku dengan pandangan ketakutan. Aku tidak memperdulikan itu, ku dekap Cut dan ku lumat semua yang ada dihadapanku. Aku terus mengamuk dan melampiaskan kerianduanku terhadap Cut. Tiba-tiba Cut lepas dari dekapanku dan terlempar entah kemana.
”Cut…!!!, Cut…!!!” Aku berteriak memanggil, tetapi tidak ada jawaban dari Cut.
Aku terus mencari Cut. Inchi demi inchi ku lalui, bahkan sudah sampai sepuluh kilometer aku bergerak di darat, tetapi Cut tetap tidak ku temui. Aku terus berputar-putar mencari Cut, sementara gelombangku menghancurkan negeri Cut. Cukup lama aku begitu, akhirnya aku tersentak dan sadar bahwa tindakanku telah diluar kodrat alamiahku.
”Cut, apa yang telah ku lakukan? Aku telah menghancurkan negerimu. Semua bukan kemauanku Cut.” Aku berkata dengan penyesalan dan perlahan kembali ke kodratku.
Sehari setelah itu, ku lihat banyak yang datang ke negeri Cut. Mereka bukan hanya mengantarkan barang, tetapi tinggal disana untuk membantu masyarakat negeri Cut. Aku menyaksikan persaudaraan tanpa batas telah hadir di negeri Cut. Tidak ada lagi perbedaan agama, ras, suku, dan perbedaan-perbedaan lainnya yang menjadi penghalang diantara mereka. Semua mungkin berduka karena kehilangan keluarga, tetapi aku akan lebih berduka apabila pengorbanan Cut sia-sia.
”Maafkan aku Cut.” Ucapku lirih.
***
Maninjau, 04 Januari 2005
Mutiara di Jalan Kota
Oleh : DM. Thanthar
Hari belum begitu pagi. Sinar sang fajar masih enggan mewarnai birunya langit di ufuk timur. Cahaya bintang timur masih kuat menguasai tubuh bumi. Cuaca dingin juga masih mencucuk sampai ke tulang.
Di salah satu sisi kota, sementara penghuni kota terlelap, Upik telah mulai beraktifitas. Dengan sapu lidi yang sudah sangat usang ia menelusuri sunyinya jalan utama kota. Semeter demi semeter jalan utama tersebut mulai menjadi bersih diusap oleh sapu lidi usang yang ada di tangan Upik. Memang pekerjaan itulah yang menjadi rutinitas Upik setiap paginya.
Upik bukanlah seorang yang terkenal di kota itu. Malahan SD saja ia tidak tamat, walaupun ia pandai membaca dan menulis. Namun demikian, Upik tidak pernah berputus asa dalam hidupnya. Upik selalu mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan. Bagi Upik yang penting apa yang dikerjakannya tidak bertentangan dengan kepercayaan yang ia yakini. Apalagi dengan pekerjaannya berarti ia sudah bisa meringankan beban ayahnya.
Ayah Upik bekerja sebagai buruh angkat di pasar, sedangkan ibunya sudah lama meninggal dunia. Kepergian sang ibu merupakan awal perubahan dalam keluarga Upik. Ketika masih hidup, ibunya selalu mendorong semangat Upik untuk tetap sekolah. Walaupun pendapatan warung ibunya pas-pasan tetapi beliau masih sempat menyisakan uang untuk pendidikan Upik.
“Ibu ingin kamu bisa sekolah setinggi-tingginya Pik. Dengan sekolah yang tinggi, kamu nanti tidak akan mengalami hidup susah seperti yang kita alami sekarang. Makanya kamu harus rajin-rajin belajar.” Nasehat ibu malam itu.
Upik hanya diam. Waktu itu ia baru berumur 7 tahun dan belum mengerti apa maksud ucapan ibunya.
Keesokan harinya kondisi berbalik seratus delapan puluh derajat. Sepulang dari sekolah, Upik mendapati ibunya telah meninggal. Upik hanya termangu melihat orang-orang, yang tinggal di sekitar rumahnya mengerumuni ibunya. Ia juga belum mengerti mengapa ayahnya sampai menangis. Ia hanya mendengar, warung ibunya terbakar dan ibunya meninggal karena tertimpa oleh kayu penyangga atap warung yang roboh.
Semenjak kepergian ibunya, Upik melewati hari-harinya dengan kekosongan kasih sayang. Ayahnya yang diharapkan sebagai penganti fungsi ibunya ternyata tidak mampu memenuhi harapan Upik. Sebagai seorang buruh angkat, ayahnya harus berangkat ke pasar disaat Upik masih terlelap dan akan pulang ke rumah setelah hari beranjak sore. Dengan demikian, ketika Upik terbangun ia tidak lagi menemui makanan yang biasanya telah dipersiapkan oleh ibunya.
Hidup Upik menjadi tidak teratur, bahkan terkadang ia harus berusaha sendiri mencari uang untuk membeli makanan sekedar pengobat rasa lapar yang mendera perutnya. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Upik selain menadahkan tangannya kepada orang-orang yang lewat di depannya. Yah..Upik memang harus menjadi seorang pengemis.
Sebagaimana kehidupan seorang pengemis, Upik harus kuat menahan teriknya panas matahari dan dinginnya cuaca ketika hujan menyambangi kota. Lama kelamaan daya tahan tubuh Upik mulai melemah dan ia jatuh sakit. Ayah Upik sempat panik, ia tidak tahu harus berbuat apa. Untuk membawa Upik ke dokter rasanya tidak mungkin, karena ia tidak akan sanggup membayar biaya pengobatan Upik. Untunglah salah seorang tetangga Upik berbaik hati membantu biaya pengobatan, sehingga Upik bisa sembuh seperti sediakala. Semenjak itu Ayah melarang Upik menjadi seorang pengemis.
Seiring perputaran waktu, Upik sudah beranjak remaja. Ia sudah mulai memikirkan masa depan hidupnya. Pada dasarnya Upik termasuk anak yang cukup cerdas. Saat sekolah Upik sempat menjadi juara kelas. Namun sayang, nasib Upik tidak seberuntung anak-anak lainnya. Upik hanya bisa menikmati bangku sekolah selama enam bulan dan setelah itu ia harus putus sekolah.
***
Sudah hampir setahun Upik menjalani pekerjaan sebagai penyapu jalan. Upik bisa bekerja sebagai penyapu jalan setelah pak Rahman, kenalan ayahnya yang berkerja di dinas kebersihan kota, mengatakan bahwa ia sedang mencari tambahan pekerja untuk membersihkan jalan-jalan utama kota. Dan ketika mengetahui Upik belum ada kerja, kenalan ayahnya itu menyarankan agar Upik mendaftar saja. Akhirnya jadilah Upik sebagai pekerja di dinas kebersihan, dengan tugas membersihkan jalan utama kota yang tidak begitu jauh dari rumahnya.
Masa remaja yang dilalui Upik sangat berbeda dengan perempuan yang sebaya dengannya. Ketika remaja-remaja lain melewati masa remajanya dengan gembira dan menuntut ilmu di sekolah, maka Upik melewati masa remajanya dengan mengayunkan sapu lidi kian kemari. Pernah Upik berangan-angan untuk bisa menyumbangkan sesuatu untuk negerinya, seperti mereka yang berprestasi dalam berbagai perlombaan, tetapi ia tidak tahu harus menyumbangkan apa. Kalau sudah begitu, yang teringat oleh Upik adalah ucapan ibunya sehari sebelum meninggal, bahwa ia harus sekolah setinggi-tingginya.
Demi mewujudkan harapan ibunya Upik berencana mengikuti kursus keterampilan menjahit. Biaya kursus diambil dari sisa upahnya yang ditabung setiap bulan.
“Buat apa kau kursus Pik, kan sudah cukup penghasilan yang kau dapatkan dengan pekerjaanmu sekarang. Lebih baik uang itu kau gunakan untuk memperbaiki rumah atau kau tabung saja untuk bekalmu kelak.” Kata Ayah ketika Upik mengutarakan niatnya untuk masuk kursus.
“Tapi Yah, kursus ini juga untuk masa depan Upik. Rasanya tidak mungkin Upik selamanya menjadi tukang sapu jalan. Upik yakin, dengan mengikuti kursus kehidupan kita akan lebih baik. Apalagi Upik ingin mewujudkan harapan Ibu.” Upik mencoba meyakinkan Ayah.
“Pik, bagi Ayah semua yang telah kamu lakukan sekarang sudah lebih dari cukup. Ayahlah yang salah sehingga kamu tidak bisa melanjutkan sekolahmu, tetapi semua ini bukan kemauan ayah. Ayah juga ingin kamu menjadi anak yang berpendidikan, namun penghasilan ayah tidak seberapa. Seharusnya ayah mencari pekerjaan lain, namun ayah tidak memiliki keterampilan lain sehingga ayah hanya bisa mengandalkan tenaga.” Ayah berkata dengan sejuta rasa sesal di dadanya.
“Ayah tidak usah berkata begitu. Upik sudah bangga dengan kondisi ayah seperti saat ini, berkat ayahlah Upik bisa seperti sekarang. Upik yakin, ayah juga tidak ingin kalau Upik selamanya menjadi tukang sapu jalan. Hanya dengan mengikuti kursus Upik bisa menambah keterampilan. Dengan keterampilan itu mudah-mudahan Upik bisa mewujudkan harapan Ibu. Jadi Upik harap ayah mengizinkan Upik untuk mengikuti kursus.” Ucap Upik.
Ayah tidak bisa lagi mengubah niat Upik untuk mengikuti kursus.
Setelah masuk kursus, Upik mulai mengatur kehidupannya. Pagi-pagi ia bekerja seperti biasa, siangnya ia membereskan rumah, dan sorenya ia mengikuti kursus. Tidak terasa sudah enam bulan Upik mengikuti kursus. Berarti ia hanya tinggal menunggu ujian terakhir, jika ia lulus maka sertifikat akan segera didapatkannya. Upik sudah mahir menjahit pakaian, bahkan ia juga sudah bisa merancang mode sendiri.
“Pik, tadi pak Rahman berpesan kepada ayah. Katanya kamu besok disuruh menghadap ke kantornya. Kamu ada masalah apa Pik, kok sampai dipanggil pak Rahman?” Ayah menyampaikan pesan pak Rahman sekaligus bertanya kepada Upik.
“Rasanya Upik tidak melakukan kesalahan apa-apa kok Yah.” Jawab Upik.
Upik merasa cemas, jangan-jangan ia akan diberhentikan. Kalau benar demikian maka hancurlah semua yang telah dirintisnya, kursusnya yang hampir selesai akan berantakan. Dalam hantinya upik berdoa semoga semua dugaannya salah.
“Siapa tahu pak Rahman akan memberi bonus.”Upik mencoba menghibur hatinya.
***
Keesokan hari, setelah menyelesaikan tugasnya, Upik segera menuju kantor pak Rahman.
“Pagi Pak, Bapak menyuruh saya kesini?” Kata Upik setelah sampai di ruangan pak Rahman.
“Benar Pik. Duduklah dulu, baru kita bicarakan semuanya.” Jawab pak Rahman, jarinya sibuk membolak-balikan tumpukan dokumen yang ada di atas mejanya.
“Terima kasih Pak.” Upik pun duduk.
Upik menunggu penjelasan pak Rahman dengan hati berdebar. Melihat sikap pak Rahman, Upik merasa semua yang ia khawatirkan akan terjadi. Pak Rahman kelihatannya begitu serius, dari tadi tidak terlihat senyum di wajahnya.
“Sebenarnya ada apa Pak?” Upik tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak bertanya.
“Sabarlah sebentar, Bapak sedang mencari arsip kamu.” Pak Rahman kembali sibuk, kini ia mencari di laci mejanya.
“Begini Pik, Bapak ingin bertanya kepada kamu. Apakah upah kamu selama ini tidak cukup bagi kebutuhanmu?” Tanya pak Rahman membuka pembicaraan.
“Ma..maksud Bapak?” Agak tergagap Upik menanggapi pertanyaan pak Rahman. Upik tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.
“Jangan gugup begitu, Bapak hanya ingin tahu apa alasan kamu masuk kursus. Padahal kamukan sudah mendapat pekerjaan tetap disini.” Ujar pak Rahman.
“Saya, anu Pak. Saya…” Upik ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
“Jangan ragu-ragu Pik. Bapak adalah teman Ayah mu, berarti Bapak dapat juga kamu anggap sebagai Ayah kamu. Kemarin Bapak bertemu dengan ayah mu. Ia mengatakan bahwa kamu masuk kursus dengan sisa upahmu yang kamu tabungkan. Karena itulah Bapak memanggil kamu.”Pak Rahman mencoba menghilangkan keragu-raguan Upik.
Mendengar penjelasan pak Rahman, hilanglah keragu-raguan di hati Upik. Upik menjelaskan semuanya kepada pak Rahman. Ternyata pak Rahman malah mendukung niatnya.
“Tetapi Pik, sebenarnya Bapak memanggil kamu bukanlah untuk itu. Bapak hanya disuruh menyampaikan pesan oleh Bapak Gubernur, bahwa kamu akan diajak ke Ibukota untuk mendapatkan penghargaan.” Pak Rahman mengakhiri kalimatnya dengan seulas senyum.
“Selamat Pik, berkat kamu dan kawan-kawanmu kota kita berhasil mendapatkan predikat sebagai kota terbersih. Dengan demikian, kota kita berhak mendapatkan piala Adipura. Penyerahan piala Adipura akan dilaksanakan di Istana Negara dan Bapak Gubernur sangat menginginkan kamu ikut mendampinginya. Kamu akan diberi penghargaan Pik, atas jasamu dalam menjaga kebersihan lingkungan.” Sambung pak Rahman.
“Tetapi pak, mengapa hanya saya yang diberi penghargaan. Padahal yang bekerja sebagai penyapu jalan bukanlah saya sendiri, kawan-kawan yang lain bagaimana. Rasanya apa yang saya lakukan tidak berbeda dengan yang mereka lakukan.” Tanya Upik.
“Kamu benar Pik, pekerjaan yang kalian lakukan memang sama, tetapi yang perlu kamu ketahui bahwa kamulah satu-satunya perempuan diantara pekerja yang ada. Malahan kamu merupakan perempuan pertama yang mau bekerja sebagai penyapu jalan. Artinya kamu telah melakukan sebuah perubahan yang sangat berarti.” Ujar pak Rahman.
Upik hanya diam, ia tidak dapat berkata-kata lagi. Upik masih belum percaya dengan semua yang ia dengar.
***
Perempuan separuh baya itu memandang penuh arti ke arah tugu Adipura yang ada di tengah jalan kota. Semenjak mendapat penghargaan sebagai kota terbersih, piala Adipura selalu menghiasi persimpangan jalan utama kota. Tak lama perempuan itu disana, ia kemudian membuka pintu mobilnya dan memandang ke jok belakang.
“Bagaimana Yah, kita pulang sekarang?” tanyanya kepada seorang lelaki tua.
“Ayah masih merasa seperti bermimpi Pik. Rasanya baru kemarin kamu mengayunkan sapu lidi usang. Siapa yang menduga, sekarang kamu telah menjadi seorang desainer terkenal. Dengan sekolah desain yang kamu buka berarti kamu telah membawa pembaharuan bagi kaummu. Seandainya ibumu masih hidup, pasti ia sangat bangga dengan mu.” Ucap si lelaki tua.
“Upik juga tidak pernah menyangka Yah, tetapi ini adalah sebuah kenyataan. Semua kejadian ini makin menambah keyakinan Upik, bahwa tuhan tidak akan merubah nasib kita apabila kita tidak berusaha merubahnya.” Ucap Upik. Mereka kemudian berlalu meninggalkan tugu Adipura yang kokoh berdiri di persimpangan jalan utama kota itu.
Sebenarnya masih ada cita-cita Upik yang belum bisa ia wujudkan. Upik merasa apalah gunanya kota yang bersih, sementara nurani pejabat kota masih kotor oleh sampah-sampah yang busuknya melebihi aroma sampah yang dibersihkan Upik setiap harinya. Namun Upik belum tahu apa yang akan dilakukannya untuk merealisasikan niatnya itu.
Sore telah terlihat semakin lelah, agaknya ia berharap senja segera datang sehingga malam bisa menyeberangi laut dan menggantikan tugasnya memandu perjalanan bumi. Sementara itu, mutiara-mutiara lain masih berjuang mengikuti jejak Upik. Betapa pun dinginnya hawa pagi, cahaya mutiara di jalan kota itu tidak akan pernah redup.
***
Maninjau, April 2005
Negeri Tanah Liat
Oleh : DM. Thanthar
Ini adalah negeri tanah liat. Sebenarnya negeri ini terhampar untuk mereka yang tidak serakah. Untuk orang yang jujur, walaupun kejujuran itu sering diartikan dengan kelicikan. Dan, mereka yang serakah sering memperbodoh orang-orang yang jujur itu. Akan tetapi, aku tidak akan bisa mereka perbodoh. Kejujuran yang aku adalah kejujuran yang hakiki.
Ini benar-benar negeri tanah liat. Tumbuh-tumbuhan, apapun juga jenisnya, tidak pernah bisa mendustai sejengkal tanahpun untuk bisa tumbuh, apalagi berkembang biak. Kemarin ada sebatang pohon yang berjuang dengan gigih menaklukan racun tanah liat. Perjuangan yang dilakukan pohon itu semata-mata perjuangan untuk hidup. Ternyata, pohon itu berhasil. Racun-racun tanah liat tidak mampu menghanguskan akar-akarnya. Untunglah sang pohon tidak berjiwa sombong, dengan rendah hati ia menggugurkan daunnya sehingga pertarungannya dengan tanah liat berakhir.
Pengorbanan. Ya..pengorbanan. Paling tidak pengorbanan yang dilakukan oleh pohon yang rendah hati itu tidak sia-sia. Pengorbanannya sarat akan makna. Pengorbanan yang menyisakan pelajaran bagi generasi penerusnya.
Sebagai satu-satunya pohon yang mampu melawan racun tanah liat, sebenarnya ia memiliki banyak kesempatan untuk melakukan apa saja. Akan tetapi, ternyata ia masih memiliki hati nurani. Ia jujur tapi tidak licik. Jiwanya tidak serakah. Padahal jika ia mau, ia bisa menjadi raja di negeri tanah liat. Ia tidak mau melakukan itu, karena ia sadar akan kodratnya sebagai hamba. Hamba yang harus selalu mengabdi kepada tuannya. Aku menyebutnya pohon penguasa.
***
Aku pernah mendengar orang-orang negeri tanah liat membicarakan pohon penguasa. Mereka berpendapat bahwa pohon penguasa adalah pohon yang pengecut, mundur sebelum bertarung. Pohon yang sangat bodoh, tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk generasi penerusnya. Pohon yang tidak berguna, karena terlalu jujur.
“Padahal dengan kekuasaan ia bisa menjadi kaya raya, menjadi terpandang, dan dapat hidup dengan enak.” Ujar salah seorang dari mereka.
Aku hanya tersenyum kecut mendengarkan pendapat mereka. Pendapat mereka tidak satupun yang sesuai dengan pemikiranku. Mereka seolah tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, dengan arti kejujuran, arti kekuasaan. Aku tahu, mereka terlalu muda untuk menilai dan mengkaji sebuah persoalan hidup. Malah lebih dari itu, aku mencurigai mereka sebagai produk Barat yang selalu memuja-muja materi dan mencintai kebebasan. Kebebasan yang kebablasan. Dan akhirnya, saudara mereka yang bergelut dengan kemelaratan. Saudara mereka yang merana karena hilangnya etika dan rambu-rambu dalam kehidupan. Artinya, mereka dituntun menjadi binatang.
Sebagai seorang pengembara, sudah pasti aku adalah seorang pemuja kebebasan. Namun demikian, kebebasan yang aku anut adalah kebebasan yang terbatas. Aku bebas melangkah sesuai kehendakku. Tetapi aku tidak akan bebas mengembara siang dan malam, karena aku terbatas oleh kemampuan fisikku. Aku akan dibatasi oleh rasa kantuk, oleh rasa lapar, dan oleh rasa letih. Apalagi aku adalah hamba, harus mematuhi rambu-rambu hidup yang telah dititahkan tuanku. Aku diberi hak, tentu aku juga harus menunaikan kewajiban. Jadi, jelas kebebasan yang aku pahami berbeda dengan yang mereka pahami. Kebebasanku adalah kebebasan yang terbatas, bukan kebebasan yang kebablasan. Ketika hal itu aku sampaikan kepada mereka, hanya cibiran yang aku terima.
Aku bukanlah orang yang terpandang dalam kaumku. Aku juga bukan seorang pengajar kebijaksanaan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan pohon penguasa bukanlah tindakan yang pengecut. Mundur bukan berarti gugur, jujur bukan berarti hina dan tidak berguna. Makna yang ada dibalik itu yang harus diselami. Bahwa penguasa tidak boleh serakah, harus jujur. Tetapi, aku sangat meragukan akan bisa menemukan penguasa yang mengundurkan diri dari jabatannya dengan sukarela. Bagaimana mau mundur, mendapatkan jabatan saja harus gontok-gontokan. Paling tidak hal seperti itu telah banyak aku saksikan dari tanah dan negeri yang pernah aku jejak.
Ada makna yang terkandung dibalik kematian pohon penguasa. Makna yang sangat berguna bagi generasi penerusnya. Aku melihat pohon penguasa hanya ingin mengajarkan generasinya akan makna hidup yang hakiki. Hidup harus berjuang. Dengan demikian, maka generasinya tidak hanya membonceng pada kesuksesan yang telah ia raih dengan susah payah. Menjalani hidup harus bercermin kepada setiap sisi kehidupan. Dengan melihat setiap sisi kehidupan suatu generasi akan mengerti akan pahit-manisnya hidup, paham akan hitam-putihnya hidup. Dengan demikian, akan lahir generasi dengan jiwa yang kokoh, yang tidak akan menindas mereka yang lemah.
Ya seperti itulah. Mungkin pola pikir yang berbeda, sehingga otak dan jiwa melahirkan pendapat yang berbeda pula. Tetapi mungkin juga kedalaman pemikiran yang berlainan, sehingga asumsi yang dimuntahkan tidak pernah bisa beriringan. Atau, cara pandang yang berseberang, sehingga lahir ide yang saling tantang.
Namun demikian, apapun yang menjadi pembeda antara aku dan mereka, paling tidak semuanya membuktikan bahwa kami adalah manusia. Manusia memang sangat erat dengan fikiran, karena kalau manusia tidak berfikir berarti belum menjadi manusia. Manusia memang harus berfikir, walaupun hasil pemikiran akan berlainan.
Mereka manusia, aku juga manusia. Tetapi jelas aku bukanlah mereka. Aku adalah seorang pengembara yang berjalan tanpa arah. Aku hanya mengandalkan naluriku menuntun sepasang kakiku untuk menorehkan jejak. Jejak yang mungkin nanti akan berguna bagi anak negeri dari tanah yang aku jejak itu. Termasuk bagi anak negeri tanah liat ini.
***
Aku sangat menyanjung naluri, sama halnya dengan tingginya sanjunganku terhadap hati nurani. Sebagai seorang pengembara, telah banyak tanah dan negeri yang aku jejak. Disetiap tanah dan negeri yang aku jejak itu, selalu muncul pertanyaan dalam benakku.
“Apakah para penguasa disetiap negeri masih memiliki naluri? Masih memiliki hati nurani?”
Pertanyaan itulah yang selalu muncul, tidak pernah berbeda, selalu sama. Kendati demikian, aku juga memahami bahwa pertanyaan tidak akan hadir begitu saja. Sebuah pertanyaan biasanya muncul dari keragu-raguan, sementara keragu-raguan hadir setelah adanya proses pembelajaran dan pengamatan.
Aku pikir tidak aneh jika pertanyaan yang sama selalu hadir dalam benakku. Sebagai pengembara aku telah menjejak banyak tanah dan negeri. Sebagai pengembara aku juga bertualang, dan menjadikan alam sebagai guruku. Alam telah banyak mengajarkan kearifan dan kebijaksanaan kepadaku. Dengan kearifan dan kebijaksanaan itulah aku dapat melihat segala fenomena yang ada ditiap tanah dan negeri yang pernah aku datangi. Dari pengamatanku aku selalu melihat penderitaan berada di pangkuan rakyat jelata. Kemelaratan seolah-olah telah menjadi jatah rakyat. Sementara kemegahan dan kemewahan mutlak menjadi milik penguasa.
Penguasa-penguasa megeri bergelimang dengan harta. Para kerabatnya hidup dengan makmur tanpa perlu perjuangan. Akibatnya naluri dan hati nurani mereka menjadi mati. Mereka tidak akan pernah bisa merasakan pahitnya hidup para gelandangan. Mereka hanya ternganga ketika manusia-manusia binatang telah berkeliarn di tengah kota. Manusia-manusia binatang itu membuat kekacauan, menimbulkan keresahan dengan merampok, membunuh, memperkosa, menganiaya, menindas kaum lemah, dan merampas hak orang lain.
Pernah suatu ketika, manusia binatang dibunuh oleh seorang pemuda. Pemuda yang muak dengan kelakuan manusia-manusia binatang itu. Namun yang terjadi, pemuda itu malah ditangkap dan diberikan hukuman oleh penguasa. Alasannya hanyalah karena pembunuhan yang berencana, sengaja membawa senjata tajam. Padahal kalau manusia binatang itu tidak dibunuh, akan banyak lagi mereka yang tidak berdosa akan mati. Bukankah penguasa tidak mampu menangkap manusia binatang itu, dan juga tidak mampu melindungi rakyat sepenuhnya. Menurutku itu sungguh sebuah ketidakadilan.
Aku tidak akan memberikan arti apa-apa untuk negeri ini. Aku hanya akan mengatakan bahwa negeri kalian adalah negeri yang sangat kaya. Namun, kalian hidup dalam kemiskinan. Dulu masih ada kekayaan yang bisa kalian banggakan, yaitu kekayaan jiwa dan akhlak. Kini..? Kalian lihat saja sendiri, kalian miskin jiwa dan raga. Tidak ada kata terlambat jika kalian ingin melakukan perubahan.
Aku tidak akan lama berada di negeri tanah liat ini. Sepasang kakiku tidak akan tahan untuk diam dan ongkang-ongkang saja. Kodratku sebagai pengembara mengharuskan aku untuk terus bergerak. Karena, jika aku berhenti bergerak berarti aku tak layak lagi mengukir jejak.
***
Maninjau, 5 Februari 2006
BUNTING… BINTANG…
Oleh: DM. Thanthar
Sore merayap mendekati senja yang akan menjembataninya dengan malam, tanpa mempedulikan orang-orang yang menggerutu karena pekerjaannya harus tertunda sampai esok. Segerombolan burung pipit parit terbang bergegas menuju sarangnya, setelah seharian mereka mempertaruhkan hidupnya demi mencuri butiran padi petani.
Aku termenung sendirian di beranda rumah. Fikiranku masih bergelut dengan cerita yang disampaikan Rimba kepadaku, sekitar sejam yang lalu. Awalnya, aku hanya tertawa mendengarkan cerita itu. Cerita yang mirip kidung pengantar tidur alias dongeng yang tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Rimba hanya mengatakan bahwa di kampungnya ada kejadian aneh bin ajaib. Bahwa ada perawan yang hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya.
“Terus kenapa?!” tanyaku datar saja.
“Kenapa bagaimana, kejadian itu kan aneh.” Jawabnya.
“Aneh gimana, zaman sekarang sudah banyak kejadian seperti itu. Jadi, ya tidak aneh lagi.”
“Ah…yang benar?!”
“Kalau kau tidak percaya lihat saja di TV, kan sering berita tentang anak gadis yang hamil di luar nikah, bahkan berita tentang penemuan bayi yang tidak diketahui siapa orang tuanya juga sering muncul di TV. Nah, ga mungkin ada seorang ibu yang tega membuang anaknya kalau bukan hasil hubungan haram.” Kataku sengit.
“Tapi kan tidak sama dengan kejadian yang ada di kampungku.”
“Tidak sama, maksudmu?!”
“Ya tidak sama. Kalau yang ada di berita-berita itu kan anak gadis yang hamil.”
“Lha apa bedanya? Anak gadis dan perawan itu kan sama saja?”
“Sama ya?!” Wajah Rimba terlihat bingung.
“Tidak sama dong. Perawan ya perawan, anak gadis ya anak gadis.” Bantahnya kemudian, setelah ia berfikir sesaat.
“Sudahlah, bicara dengan kamu memang membuat bingung. Tetapi menurutku kejadian itu adalah kejadian yang aneh karena biasanya yang hamil itu tentu sudah tidak perawan lagi.” Sambungnya setengah menggerutu.
Aku hanya tersenyum-senyum geli melihat dia melangkah dalam gerutuannya dengan kening berkerut.
Bagiku hal itu memang bukan sesuatu yang luar biasa. Akhir-akhir ini memang sering kejadian seperti itu. Anak gadis si ini hamil lah, anak gadis si itu bunting lah, dan semuanya hamil di luar nikah. Ketika ditelusuri penyebabnya, sudah pasti karena salah pergaulan, karena memandang rendah aturan adat dan norma-norma kehidupan. Ujung-ujungnya, perempuan lah yang kena getahnya karena harus menanggung malu yang berkepanjangan. Sementara yang laki-laki dengan mudahnya menghilang seperti ditelan bumi. Dan itu bukan hal yang aneh.
***
Tuit… Tuit… Jes…Jes…Jes…
Kereta api yang membawa semen dari Indarung melintas dan berlari dengan angkuhnya menuju Teluk Bayur. Hitam gerbongnya menyeretku dalam sebuah kisah.
“Puti bingung da?!”
“Bingung karena apa?”
Puti hanya diam. Dia kelihatan sangat ragu menjawab pertanyaanku.
“Ayolah cerita, apa yang membuat Puti jadi bingung?” tanyaku lagi.
Puti masih kelihatan ragu-ragu tetapi akhirnya ia bicara juga.
“Puti akan cerita pada uda, tapi uda harus janji dulu tidak akan cerita pada siapapun.”
“Ya uda janji.”
“Dan Puti bisa pegang janji uda.” Sambungku ketika melihat dia masih ragu-ragu untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.
“Sebenarnya Puti malu untuk cerita Da, tapi Puti tidak punya pilihan lain. Puti tidak tahu lagi apa yang harus Puti lakukan untuk menghadapi masalah ini.” Ucap Puti pelan.
“Memangnya ada apa Puti?”
“Hmm… Puti sudah tiga bulan tidak haid Da.”
“Terus kenapa?”
“Puti takut Da.!?”
“Itu bukan berarti Puti hamil kan?” Tanyaku meminta kepastian. Kecemasan mulai merayapi hatiku.
“Itulah yang membuat Puti bingung Da. Puti merasa tidak pernah berbuat kesalahan tapi kok bisa begini?”
“Puti sudah periksa ke dokter? Yaa, siapa tahu ada semacam kelainan pada diri Puti sehingga haidnya jadi tidak lancar.” Ucapku setengah menghibur.
“Puti takut periksa ke dokter Da. Nanti kalau Puti benar-benar hamil bagaimana? Puti kan jadi malu Da. Keluarga Puti juga akan ikut menanggung malu.”
“Uda tidak yakin kalau Puti hamil. Mana mungkin tanpa hubungan dengan lawan jenis seorang perempuan bisa hamil.”
“Tapi, Puti pernah iseng-iseng memakai alat tes kehamilan dan ternyata garisnya ada dua. Itukan artinya positif Da.”
Aku menangkap kecemasan yang tidak dibuat-buat dari nada bicara Puti.
“Mungkin alat itu bekas dipakai oleh kakak Puti. Kakak Puti kan lagi hamil.” Aku masih tidak percaya kalau Puti hamil.
“Tidak Da, alat tes kehamilannya baru kok!?”
Aku tertegun mendengarnya. Berbagai dugaan muncul dalam benakku. Mungkinkah Puti telah jadi korban perkosaaan atau jangan-jangan dia adalah seorang gadis korban dari pergaulan bebas. Tapi… semua itu tidak mungkin karena Puti yang aku kenal adalah seorang gadis yang taat akan aturan agamanya. Puti sangat anti dengan pergaulan bebas, bahkan setahuku dia tidak pernah pacaran. Jadi sangat tidak mungkin kalau dia hamil diluar nikah.
“Apa yang harus Puti lakukan sekarang Da? Puti tidak kuat menghadapi semua ini. Daripada hidup Puti hanya akan memberikan malu pada keluarga lebih baik Puti mati.”
“Jangan berkata seperti itu. Semua masalah pasti ada solusinya. Puti jangan putus asa seperti itu.”Aku menjawab apa adanya, tanpa sempat berfikir terlebih dahulu.
“Iya, tapi apa solusinya Da? Mungkin Puti pergi aja dari rumah. Puti tidak ingin membuat malu keluarga.”
“Puti mau pergi kemana? Puti kan tidak membuat kesalahan jadi mengapa harus pergi?”
“Puti benar-benar bingung Da. Tapi Puti tidak mungkin tetap tinggal di rumah, nanti kalau perut Puti membesar bagaimana?”
“Hmm… Tunggu dulu. Selama ini apakah Puti pernah mual-mual, pusing, dan ingin makan yang aneh-aneh?” Tanyaku.
“Tidak pernah.”
“Kalau begitu Puti tidak hamil, jadi tidak perlu cemas.”
“Tapi Puti sudah tidak haid selama tiga bulan, lalu alat tes kehamilan itu juga menunjukan hasil positif. Jadi mana mungkin Puti tidak hamil?” Ucapnya ketus.
“Seorang perempuan kan tidak akan hamil selama tidak ada sperma yang membuahi indung telur. Puti tidak pernah melakukan hubungan dengan laki-laki, jadi mana mungkin Puti hamil. Ini sangat tidak masuk akal. Kalau benar Puti hamil dari mana asal sperma yang membuahi indung telur dalam rahim Puti berasal? Tidak mungkin jatuh dari langit dan kemudian tiba-tiba saja ada dalam rahim Puti. Itu mustahil Ti.”
“Coba Puti ingat-ingat lagi, apakah ada kejadian aneh yang Puti alami 3-4 bulan yang lalu?” Sambungku. Ya, siapa tahu Puti malu untuk cerita kejadian yang sebenarnya terjadi.
“Seingat Puti tidak pernah Da.”
“Benar?”
“Puti tahu, uda pasti berfikir Puti bohong pada uda. Terserah uda percaya atau tidak yang pasti Puti tidak pernah bohong pada uda.”
Aku benar-benar bingung. Ini adalah persoalan yang paling rumit dan aneh yang pernah aku temui. Persoalan yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat manusia. Berkali-kali ku coba menembus batas akal sehat itu, tapi aku tetap saja terhempas pada kesimpulan yang sama. Aku harus menikahi Puti.
***
Tuit… Tuit… Jes…Jes…Jes…
Kereta api yang tadi lewat kembali melintas dengan keangkuhan yang sama, kali ini dengan gerbong yang kosong. Derit gerbongnya membuat ku tersadar dari lamunan panjang.
Senja telah digantikan oleh malam yang mulai menyaru bintang untuk menemaninya. Satu per satu bintang muncul dan berkedipan di langit.
“Ah, Bintang.” Gumam ku.
Kerinduanku pada bintang pun bergejolak. Tumbal kelahirannya adalah nyawa ibunya, kemudian disusulnya. Mereka meninggalkan aku.
Sementara itu, dalam sebuah rumah, Ramadi sedang komat-kamit merapal mantra. Di hadapannya tergeletak sepasang boneka dengan pose mesum. Entah perawan mana lagi yang akan jadi korbannya. Korban dari kisah cinta yang buta, yang membutakan mata hati manusia.
Maninjau 25, 04.08.07